Senin, 02 Maret 2009

Ilmu Jiwa Anak

“ PENGARUH TELEVISI TERHADAP MORAL ANAK “

Menurut kita, bahwa televisi sekarang ini telah membawa banyak dampak yang begitu berpengaruh kepada kita semua. Baik muda maupun tua. Adakalanya kita berpikir bahwa televisi itu hanya sekedar media informasi dan hiburan, tetapi kita jangan lupa, setiap acara yang ditayangkan memiliki pesan dan makna dari acara yang ditampilkan.

Kita tidak bisa menafikan, bahwa televisi juga bisa mempengaruhi kehidupan moral anak zaman sekarang ini. Anak-anak cenderung meniru apa-apa yang mereka lihat dari televisi itu. Ada pesan-pesan yang mereka tangkap dengan imajinasi mereka. Mereka cenderung lebih menyikapi keadaan-keadaan yang disampaikan dari acara televisi itu.

Salah satu kasus yang terjadi pada zaman sekarang ini, banyak kita lihat dampak televisi terhadap moral anak. Salah satu contohnya, kita lihat bahwa anak-anak sekarang ini selalu melihat trendi cara berpakaian dan bergaul dari para artis-artis yang mereka kagumi dari televisi.

Mereka lebih berimajinasi dengan pikiran mereka tentang kehidupan ini. Bagaimana kondisi-kondisi suatu acara televisi mereka ikuti dan mereka populerkan dengan imajinasi mereka, dan mereka kembangkan dalam bayangan angan mereka dengan ekspresi.

Seperti dari mode pakaian hingga assesoris gaya, selalu mereka tangkap pesan dari suatu acara televisi. Mereka lebih cenderung mengungkapkan ekspresi mereka dengan imajinasi mereka. Ironisnya, bahkan mereka tidak memperdulikan adab dan kebiasaan norma yang ada.

Ada juga kasus moral anak yang menjadi penakut disebabkan terlalu berimajinasi dari tontonan film horror di televisi.

Bisa kita bayangkan, begitu besar pengaruh televisi terhadap moral anak.

ANALISIS KASUS

Televisi merupakan media massa elektronik yang sangat digemari hampir disegala jenjang usia, baik oleh anak-anak remaja maupun orang dewasa sekalipun. Menonton acara televisi sebenarnya sangat baik bagi anak-anak, remaja dan orang dewasa, dengan catatan apabila menonton televisi tersebut tidak berlebihan, acara yang ditonton sesuai dengan usia, dan bagi anak-anak adanya kontrol/pengawasan dari orang tua. Namun kenyataan yang terjadi, banyak dari anak-anak menonton acara yang seharusnya belum pantas untuk ia saksikan serta kebiasaan menonton televisi telah menjadi kebiasaan yang berlebihan tanpa diikuti dengan sikap yang kreatif, bahkan bisa menyebabkan anak bersikap pasif.

Bagi anak-anak, kebiasaan menonton televisi bisa mengakibatkan menurunnya minat baca anak-anak terhadap buku, serta masih banyak lagi dampak negatif lainnya jika dibandingkan dampak positifnya yang hanya sedikit sekali. Anak-anak cenderung lebih senang berlama-lama didepan televisi dibandingan harus belajar, atau membaca buku.

Jika kita melihat acara-acara yang disajikan oleh stasiun televisi, banyak acara yang disajikan tidak mendidik malahan bisa dikatakan berbahaya bagi anak-anak untuk di tonton. Kebanyakan dari acara televisi memutar acara yang berbau kekerasan, adegan pacaran yang mestinya belum pantas untuk mereka tonton, tidak hormat terhadap orang tua, gaya hidup yang hura-hura (mementingkan duniawi saja) dan masih banyak lagi deretan dampak negatif yang akan menggrogoti anak-anak yang masih belum mengerti dan mengetahui apa-apa. Mereka hanya tahu bahwa acara televisi itu bagus, mereka merasa senang dan terhibur serta merasa penasaran untuk terus mengikuti acara demi acara selanjutnya. Sudah sepatutnya orang tua menyadari hal ini, mengingat betapa besarnya akibat dari menonton televisi yang berlebihan.

Dibawah ini dicantumkan data mengenai fakta tentang pertelevisian Indonesia :

1. tahun 2002 jam tonton televisi anak-anak 30-35 jam/hari atau 1.560 – 1.820

jam/tahun, sedangkan jam belajar SD umumnya kurang dari 1.000jam/tahun.

2. 85% acara televisi tidak aman untuk anak, karena banyak mengandung adegan

kekerasa, seks dan mistis yang berlebihan dan terbuka.

3. saat ini ada 800 judul acara anak, dengan 300 kali tayang selama 170jam/minggu

padahal satu minggu hanya ada 24 jam X 7 hari = 168 jam.

4. 40 % waktu tayang diisi iklan yang jumblahnya 1.200 iklan/minggu, jauh diatas

rata-rata dunia 561 iklan/minggu.

Berdasarkan penjabaran diatas, bisa dibayangkan apabila anak-anak yang merupakan aset-aset bangsa yang akan meneruskan perjuangan bangsa ini serta yang akan memajukan bangsa ini, sejak kecil telah terbiasa dengan hal yang tidak bermanfaat, maka negara yang sudah tertinggal dan terpuruk ini akan semakin terpuruk dan tertinggal dan akhirnya akan menjadi negara yang akan di lecehkan oleh negara lain. Inilah fakta yang bukan hanya untuk kita perhatikan tetapi perlu dilakukan tindakan nyata untuk mengantisipasinya. Yang pastinya diperlukan satu-kesatuan tekad dalam setiap diri orang tua dan anggota masyarakat untuk bisa mengatisipasi dampak yang akan terjadi serta bisa menjadi kontrol bagi pihak penyiar televisi terhadap acara-acara yang ditayangkan oleh setiap stasiun televisi.

Jika kita kaji lebih jauh, dampak negatif dari menonton televisi berlebihan yaitu:

a. Anak 5-10 tahun, meningkatkan agresivitas dan tindak kekerasan, tidak mampu

membedakan antara realitas dan khayalan

b. Berprilaku konsumtif karena rayuan iklan

c. Mengurangi kreatifitas, kurang bermain dan bersosialisasi, menjadi manusia

individualis dan sendiri

d. Televisi menjadi pelarian dari setiap keborosan yang dialami, seolah tidak ada

pilihan lain

e. Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan) kaena kurang berkreativitas

dan berolahraga

f. Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga, waktu berkumpul dan

bercengkrama dengan anggota keluarga tergantikan dengan nonton TV, yang

cendrung berdiam diri karena asik dengan jalan pikiran masing-masing

g. Matang secara seksual lebih cepat dengan adegan seks yang sering dilihat

menjadikan anak lebih cepat matang secara seksual, ditamah rasa ingin tahu pada anak dan keinginan untuk mencoba adegan di TV semakin menjerumuskan anak.

Mungkin kita beranggapan dampak televisi tidaklah begitu teralu besar bagi anak-anak, malahan orang tua hanya melarang anak-anaknya untuk tidak menonton film yang berbau pornoaksi, dan membiarkan mereka menonton film yang biasa-biasa saja atau memang film anak-anak, namun sebenarnya film anak-anak yang di tonton oleh anak-anak pun tidak menutup kemungkinan bisa berdampak negatif bagi anak itu sendiri.

Sekarang seteleh mengetahui begitu besar dampak televisi bagi anak sudah sepatutunya setiap orang tua membatasi waktu menonton dan mengawasi serta menseleksi acara-acara apa saja yang pantas dan tidak pantas untuk di tonton oleh anak-anak.

Dari fenomena kasus diatas, kita bisa menganalisa dari segi teori belajar sosial. Bahwa semua fenomena yang disebabkan oleh televisi, memang cukup berpengaruh. Semua itu bisa terjadi bila dalam kehidupan sosial, anak-anak sekarang ini tidak terlalu mengambil referensi kepada pemikiran-pemikiran orang-orang terdahulu. Ataupun mereka menafikan ajaran-ajaran yang mereka dapat dari kehidupan sosial mereka baik disekolah maupun dari lingkungan mereka sendiri.

Anak-anak sekarang ini lebih cenderung berimajinasi dengan bayangan pikiran mereka. Mereka melihat kehidupan dengan zaman yang mereka hadapi. Karena zaman kini adalah zamannya teknologi, jadi wajar saja mereka menjadi sasaran media massa.

Masa remaja adalah masa transisi dan secara sosial mereka lebih cenderung membandingkan lingkungan mereka dengan lingkungan diluar. Bila keadaan lingkungan mereka bertentangan dengan lingkungan luar yang mereka saksikan, maka semua itu bisa menjadi anomi (keadaan tanpa norma atau hukum) dikalangan anak remaja. Mereka bingung dan dalam keadaaan inilah mereka lebih suka berimajinasi dengan ekspresi untuk mengisi kebingungan mereka. Dan inilah yang memberi kesempatan dan peluang kepada penyimpangan dan pelanggaran akibat salah berimajinasi.

Kita paparkan tadi, bahwa setiap acara televisi pasti menitipkan informasi dan pesan kepada setiap yang menyaksikannya. Jadi intinya disini, informasi-informasi dan pesan-pesan yang dibawa suatu acara televisi tersebut haruslah ditelaah dan difilter dahulu sebelum mengikutinya. Karena pemikiran-pemikiran anak remaja sekarang ini lebih kompleks dan problematis, maka adakalanya mereka benar dan adakalanya mereka salah menurut tata nilai norma yang ada.

Menurut Drs. Zulkarnaen Nst. M.Sc ( Staf pengajar UI ) dalam artikelnya “Remaja dalam prospek perubahan sosial”, menjelaskan bahwa anak remaja merupakan periode peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, ditandai beberapa ciri.

- Pertama, keinginan memenuhi dan menyatakan identitas diri.

- Kedua, Kemampuan melepaskan diri dari ketergantungan orang tua.

- Ketiga, Kebutuhan memperoleh akseptabilitas di tengah sesama remaja.

Jadi, dengan ciri-ciri ini menyebabkan kecenderungan remaja melahap begitu saja arus informasi yang serasi dengan selera dan keinginan mereka. Dia juga mengamati bahwa para orang tua-orang tua yang tadinya berfungsi sebagai penapis informasi atau pemberi rekomendasi terhadap pesan-pesan yang diterima kini tidak berfungsi lagi seperti sediakala.

Kita mungkin sangat sependapat dengan Zulkarnaen Nst. Bahwa orang tua lah yang mempunyai peranan yang sangat penting. Kita lihat saja, anak-anak remaja sekarang terlalu bebas berekspresi. Orang tua hanya diam membisu melawan pemikiran mereka. Anak sekarang cukup bisa menjawab bila mereka ditegur oleh orang tua masing-masing dengan ungkapan. “ zaman sekarang beda dengan zaman ibu dulu “.

Ungkapan itulah senjata mereka. Tetapi orang tua sekarang tidak cukup pintar menanggapi hal itu. Ironisnya, malah para orang tua pula yang terikut dengan omongan anak kesayangannya itu.

Jiwa anak-anak sekarang sudah banyak disusupi pemikiran-pemikiran bebas. Semua itu dipengaruhi dari informasi dan pesan-pesan yang ada ditelevisi. Dari televisi inilah mereka mengambil perbandingan dengan kehidupan dilingkungan mereka.

Dari kasus ini, yang paling banyak mempengaruhi tatanan nilai adalah tatanan nilai moral dan norma/kebudayaan. Banyak kebudayaan baru yang tercipta dari anak-anak muda sekarang. Norma-norma mereka pun banyak menyimpang dari kebiasaan selama ini.

Salah satu contohnya, dari cara berpakaian. Anak-anak sekarang ini lebih mengekspresikan gaya mereka dengan trendi masa kini yang mereka lihat dari tayangan suatu acara televisi.

Contoh lainnya, ada juga kasus dari moral anak yang jadi penakut, itu disebabkan terlalu menyelami tontonan film-film horror dengan imajinasi mereka yang berasal dari televisi.

Dan yang lebih parah lagi, kehidupan sosial dalam bergaul anak muda sekarang ini lebih banyak berubah dari yang ada dilingkungan mereka sendiri. Cara bergaul yang dipopulerkan acara sinetron di televisi lebih banyak ditangkap dan di aplikasikan kepada kehidupan mereka ( dengan istilah “GAUL” ).

Semua itu kembali kepada individu masing-masing. Bila mereka menyikapinya dengan pikiran luas dan tidak terlalu terbawa kepada zaman, maka semua itu bisa tidak akan terjadi.

Karena zaman sekarang adalah zaman teknologi, maka kita harus lebih waspada dalam mengontrol anak-anak. Bak kata pepatah : Anak bagaikan kertas putih, mau jadi apa anak itu, mau seperti apa anak itu, tergantung cara orang tua mendidiknya”.

Kita harus menyikapi kehidupan ini dengan bijak. Seperti kata mutiara yang dilontarkan oleh R. Al-Farisi dalam blogger artikelnya Menanggapi KehidupanZaman sudah berubah, Ilmu kita pun harus bertambah untuk menghadapi perubahan itu”.

Dari makna kata mutiara diatas, jelas bagi kita untuk selalu menimba ilmu untuk mengahadapi setiap perubahan itu. Peran orang tua yang belum maksimal kini harus lebih proaktif dalam menyaring setiap informasi dan pesan-pesan yang disampaikan oleh sebuah tayangan televisi yang ditonton anak-anak.

Orang tua harus mampu memfilter perilaku kehidupan sosial anaknya. Baik cara bergaul maupun bermasyarakat. Moral anak yang begitu rentan, harus dibina melalui jalur-jalur pendidikan. Baik pendidikan dari sekolah maupun pendidikan yang orang tua berikan.

HASIL WAWANCARA

Dari kasus yang kita bahas tadi, kami ingin menampilkan hasil dari wawancara kami dengan Pak Faris dan Bu Lia. Pak Faris dan Bu Lia adalah suami istri yang bermukim di jalan jaya mukti. Disini Pak Faris dan Bu Lia memiliki satu opini dengan apa yang sering terjadi pada anak-anak zaman sekarang ini.

Penulis : Pak… Bu… Gimana kabarnya hari ini…?

(Dengan serentak Pak Faris dan Bu Lia menjawab “ Alhamdulillah.. Baik “)

Penulis : Kami sedikit ingin bertanya tentang pengaruh televisi terhadap moral

anak-anak zaman sekarang bu… pak…..bolehkan pak…?

Pak Faris : Oh… Begitu…. Boleh…( Pak Faris sambil tersenyum)

Penulis : Pak Faris…! Bagaimana peranan televisi menurut bapak..?

Pak Faris : Kalo pendapat saya sih, yaaaa… cukup penting. Selain untuk hiburan

juga kita bisa menambah pengetahuan, seperti berita, dan acara-acara

peneguh iman.

Penulis : Kalo, untuk anak-anak gimana pak..?

Pak Faris : ya… boleh-boleh saja, yang penting kita orang tua harus bisa mengontrol

saja.

Penulis : emangnya kenapa pak bila orang tua tidak mengontrol dan apa

pengaruhnya..?

Pak Faris : kalo tidak kita control, bisa saja mereka menonton segala apa yang ada di

tv. Dan mereka meniru langsung apa yang ada di acara tv itu.

Penulis : salah satu contohnya apa pak..?

Pak Faris : Ya… Seperti film sinetron..! seperti yang kita lihat saja acara sinetron

anak muda sekarang.. ada adegan berpelukan dan ciuman, itu sudah

dianggap biasa buat anak zaman sekarang.

Bu Lia : Apalagi seperti cara pemain sinetron sekarang berpakaian, kalo anak-

anak ya… mau nya ngikutin trendi zaman sekarang saja. Jadi jelas

menonton acara tv pun harus kita control. (celetuk Bu Lia )

Penulis : bapak dan ibu setuju bila dikatakan tv itu banyak mempengaruhi moral

anak..?

Pak Faris : betul itu… anak-anak zaman sekarangkan selalu mencontoh apa yang

mereka lihat… bila yang mereka tonton acara yang kurang mendidik,

yaa… beginilah jadinya…. (Pak Faris sambil menunjuk anak-anak muda

yang lagi kumpul di depan rumahnya.). cara mereka berpakaian sudah

banyak meniru artis-artis yang ada di tv.

Penulis : Kalo menurut ibu, apa yang mempengaruhi mereka sehingga mereka bisa

seperti itu.

Bu Lia : Anak zaman sekarang susah diatur… kalo dibilangin,,! Ada aja

alasannya…

Penulis : Alasan seperti apa yang mereka katakana bu..?

Bu Lia : yang inilah.. yang itulah… pokoknya banyak aja jawabannya.. kalo

dibilangin, alasannya “zaman udah berubah mak…” (Bu Lia menirukan

seperti jawaban anaknya)

Penulis : Jadi.. menurut ibu.. apa akibatnya bagi anak-anak muda sekarang…?

Bu Lia : Akibatnya ya… macam sekarang inilah.. gaya-gaya mereka sekarang

udah jauh menyimpang dari ajaran agama..?

Penulis : Menyimpang bagaimana maksudnya bu…?

Bu Lia : ya… kita lihat tu..tu.. (agak bingung Bu Lia lalu sambil menunjuk gadis

yang baru saja lewat dihadapan kami). Pakaiannya aja lihat.. macam artis

sinetron Hollywood.. kalo mereka contoh trendi pakaian muslim tak apa..

Penulis : Kalo menurut bapak gimana…?

Pak Faris : Menurut saya sih.. karena anak sekarang lebih agresif dalam mengambil

kebijakan terhadap dirinya, ya tergantung orang tuanya aja lagi… kalo

orang tuanya bisa memfilter kelakuan anaknya.. ya semua ini tak akan

terjadi.

Penulis : Jadi menurut bapak dan ibu, kuncinya adalah orang tua ya pak.. bu..?

Pak Faris : Jelas itu… semua tergantung orang tuanya…

Penulis : ohhhh… begitu ya pak… Terima kasih ya pak…. Bu…. Atas

wawancaranya…..

Begitulah pendapat Pak Faris dan Bu Lia tentang pengaruh televisi terhadap anak. Sebagai ayah dan ibu yang baik, mereka selalu mengontrol tontonan anak-anaknya sejak dini. Karena menurut mereka, televisi tidak hanya mendatangkan dampak yang positif bagi ilmu pengetahuan anak, tapi juga banyak dampak negatifnya bagi moral dan sikap anak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar